Saat kita mendengar frasa “review rumah Youtuber”, apa yang terlintas di benak kita? Biasanya adalah tur-tur megah yang memamerkan garasi berisi mobil sport, kolam renang dengan pemandangan kota, atau walk-in closet seluas apartemen. Kita terbiasa mengukur kesuksesan seorang figur publik dari kemewahan properti yang mereka miliki. Tapi, hari ini, saya ingin mengajak Anda ke sebuah tempat yang sangat berbeda. Sebuah rumah yang tidak akan membuat kita berdecak kagum karena marmer Italianya, melainkan karena kecerdasan di setiap sentimeter perseginya.
Selamat datang di basecamp Waseda Boys di Tokyo, tempat Jerome Polin dan kawan-kawannya merajut mimpi, menciptakan konten, dan menjalani hidup. Rumah ini, yang sering kita lihat sekilas di video-video mereka, adalah sebuah anomali dalam dunia review rumah artis. Ia tidak mewah, tidak megah, dan tidak glamor. Namun, justru di situlah letak kemewahannya yang sesungguhnya: kemewahan dalam berpikir.
Artikel ini bukan sekadar tur ruangan. Ini adalah sebuah pembedahan filosofi. Bagaimana cara hidup empat pemuda kreatif di salah satu kota terpadat dan termahal di dunia ini tercermin dalam desain hunian mereka? Jawabannya adalah sebuah pelajaran berharga tentang efisiensi, minimalisme, dan seni hidup cerdas yang mungkin jauh lebih relevan untuk kita di Bandung atau Jakarta, daripada istana marmer manapun.
Babak 1: Filosofi di Balik Dinding – Tiga Pilar Desain Jepang
Sebelum kita mengintip sofanya atau membuka lemarinya, kita harus paham dulu fondasi pemikiran yang membentuk rumah-rumah di Jepang. Ada tiga pilar utama yang sangat terasa di hunian Waseda Boys.
- Pilar pemikiran pertama yang paling fundamental adalah Danshari (断捨離), atau seni melepaskan. Ini lebih dari sekadar decluttering. Danshari adalah filosofi aktif untuk menolak barang yang tidak perlu masuk ke dalam hidup kita, membuang barang yang sudah tidak relevan, dan memisahkan diri dari keterikatan pada benda mati. Inilah langkah pertama dan paling fundamental. Anda tidak bisa memiliki rumah minimalis jika Anda masih menganut gaya hidup maksimalis.
- Setelah itu, pilar kedua yang membentuk estetikanya adalah Kanketsu (簡潔), atau kesederhanaan yang esensial. Inilah inti dari estetika desain minimalis Jepang yang sering kita lihat. Prinsipnya adalah menghilangkan semua elemen visual yang tidak perlu hingga hanya tersisa esensinya saja. Tidak ada ornamen rumit atau hiasan tanpa fungsi. Setiap garis dan benda memiliki tujuan yang jelas. Ruangan yang dihasilkan bukan “kosong”, melainkan “tenang”. Ketenangan inilah yang memberikan ruang bagi pikiran untuk bernapas dan menjadi kreatif.
- Dan yang terakhir, pilar ketiga yang menyempurnakan filosofi ini adalah Mottainai (もったいない). Ini adalah sebuah ungkapan kultural yang menyiratkan rasa penyesalan terhadap segala bentuk pemborosan, baik itu makanan, waktu, maupun ruang. Dalam konteks desain interior, filosofi Mottainai termanifestasi dalam bentuk pemanfaatan ruang yang super efisien. Tidak ada “ruang mati” atau sudut yang terbuang sia-sia.
Babak 2: Ruang Bersama – Jantung Kehidupan Komunal
Seperti kebanyakan hunian di Jepang, pusat kehidupan di rumah Waseda Boys adalah ruang komunalnya, sebuah area multifungsi yang sering kita sebut LDK (Living-Dining-Kitchen). Area ini adalah bukti nyata bagaimana desain bisa mendukung dan membentuk interaksi sosial.
Dapur Terbuka: Laboratorium Efisiensi Lupakan konsep dapur bersih dan kotor yang luas seperti di rumah-rumah besar di Indonesia. Dapur di sini adalah tentang efisiensi maksimal. Kabinet atau lemari dapur mungkin tidak banyak, tetapi setiap laci dan kompartemennya pasti tertata dengan sangat rapi. Mereka memanfaatkan ruang vertikal dengan rak-rak terbuka untuk bumbu atau peralatan yang sering dipakai. Peralatannya pun kemungkinan besar adalah versi yang lebih ringkas: kompor dua tungku dan kulkas yang tinggi ramping. Penataannya yang terbuka memaksa siapa pun yang memasak untuk selalu menjaga kebersihan.
Meja Makan sebagai Pusat Semesta Jika ada satu “raja” di rumah ini, itu bukanlah sofa, melainkan meja makan. Meja ini adalah pusat dari segala aktivitas. Di sinilah mereka makan bersama, berdiskusi untuk konten “Mantappu Jiwa”, belajar, hingga menjadi latar utama saat syuting video. Pemilihan meja kayu yang simpel namun kokoh dengan beberapa kursi di sekelilingnya menunjukkan prioritas fungsi di atas segalanya.
Area Santai yang Fleksibel, Bukan Ruang Tamu Formal Area “ruang tamu”-nya mungkin hanya terdiri dari sebuah karpet yang nyaman, beberapa bean bag, dan sebuah sofa dua-seater yang ramping. Berbeda dengan kultur kita di Bandung yang menjadikan sofa sebagai pusat ruang tamu, di sini area duduknya terasa lebih fleksibel. Duduk di lantai adalah hal yang biasa, yang justru menciptakan suasana yang lebih akrab. Pilihan warna di seluruh area ini—biasanya didominasi putih, krem, dan warna kayu alami—bertujuan untuk memaksimalkan pantulan lampu & pencahayaan alami, membuat ruangan terasa lebih luas.
Baca Juga:
Estetik dan Sultan Abis! Rumah Raffi Ahmad Bikin Netizen Terpukau
Babak 3: Ruang Pribadi – Suaka Minimalis untuk Istirahat
Jika ruang bersama adalah tentang interaksi, maka kamar tidur adalah tentang introspeksi dan istirahat total. Kamar tidur di rumah Waseda Boys adalah pelajaran ekstrem tentang esensialisme.
Kamar Tidur sebagai Ruang Fokus Anda kemungkinan besar tidak akan menemukan televisi atau konsol game di dalam kamar mereka. Kamar tidur memiliki fungsi yang sangat spesifik: untuk tidur dan belajar secara individu. Desainnya sengaja “mengusir” semua aktivitas komunal lainnya ke ruang bersama. Hal ini secara psikologis menciptakan batasan yang jelas: saat Anda masuk kamar, otak Anda tahu ini adalah waktunya untuk fokus atau beristirahat.
Paradoks Rak Pakaian Terbuka Isi kamar mereka mungkin hanya terdiri dari tiga elemen utama: tempat tidur dengan rangka sederhana, sebuah meja belajar kecil, dan sebuah rak pakaian terbuka atau lemari yang sangat ramping. Rak pakaian terbuka, meskipun menampilkan kesan ‘kurang rapi’ bagi kita, adalah pilihan populer di Jepang. Mengapa? Karena rak ini memaksa pemiliknya untuk hanya menyimpan pakaian yang benar-benar dipakai dan menjaganya tetap terlipat rapi. Tidak ada ruang untuk menumpuk barang yang tidak perlu.
Babak 4: Detail-detail Cerdas – Keajaiban dalam Skala Kecil
Kejeniusan desain Jepang seringkali terletak pada detail-detail kecil yang cerdas.
- Solusi Penyimpanan: Mereka pasti memanfaatkan setiap celah, seperti menggunakan kotak-kotak penyimpanan di bawah tempat tidur atau modul rak yang bisa disesuaikan.
- Area Genkan (玄関): Di pintu masuk rumah Jepang, selalu ada area kecil bernama Genkan tempat melepas dan menyimpan sepatu. Konsep sederhana ini secara drastis menjaga kebersihan seluruh bagian dalam rumah.
- Kualitas di Atas Kuantitas: Meskipun perabotannya sedikit, kemungkinan besar mereka memilih merek-merek seperti Muji atau Nitori yang terkenal dengan desainnya yang simpel, fungsional, dan awet.
Babak 5: Pelajaran untuk Rumah Kita di Indonesia
Lantas, apa yang bisa kita bawa pulang dari tur virtual ini? Ada beberapa prinsip fundamental yang sangat bisa kita adaptasi.
- Prioritas Utama Adalah Decluttering: Daripada langsung berpikir untuk belanja perabot baru, filosofi Danshari mengajarkan kita untuk bertanya dulu: barang apa saja yang sebenarnya bisa disingkirkan dari rumah ini?
- Furnitur Multifungsi Sebagai Solusi Cerdas: Selanjutnya, pikirkan bagaimana satu perabot bisa melayani banyak fungsi. Bisakah sebuah meja berkualitas tinggi berfungsi sebagai meja makan sekaligus meja kerja untuk menghemat tempat?
- Ruang Vertikal Adalah Aset Berharga: Jangan pernah lupakan dinding. Anda bisa memanfaatkannya secara maksimal untuk penyimpanan dengan memasang rak-rak yang menjulang tinggi ke atas.
- Prinsip Kualitas di Atas Kuantitas: Terakhir, ingatlah bahwa lebih baik memiliki sedikit barang berkualitas yang awet daripada banyak barang murah yang hanya akan menjadi sampah dan memenuhi rumah di kemudian hari.
Kesimpulan: Rumah yang Mendukung Mimpi
Pada akhirnya, rumah Waseda Boys di Tokyo mengajarkan kita sebuah pelajaran penting. Bahwa kita tidak mengukur nilai sebuah rumah dari luas meter perseginya atau harga marmernya. Kita mengukur nilai sebuah rumah dari seberapa baik ia mendukung kehidupan, impian, dan interaksi orang-orang di dalamnya.
Baca Juga:
Desain Rumah Minimalis Estetika, Fungsi, dan Kenyamanan dalam Satu Konsep
Mereka merancang sebuah “mesin” yang sempurna untuk mendukung kehidupan para pemuda yang sedang berjuang, belajar, dan berkarya. Dan bukankah itu definisi terbaik dari sebuah “rumah”? Sebuah tempat yang bukan hanya untuk berlindung, tetapi juga untuk bertumbuh.





